Peningkatan Kapasitas Pengelola HIV Sulut 2016

Sejak terlaporkan pertama kali di Sulawesi Utara pada tahun 1997, tercatat adanya rata-rata penambahan kasus HIV/AIDS sebesar 18-25 kasus setiap bulannya. Sampai dengan bulan Februari 2016 tercatat ada sebanyak 2007 kasus yang tersebar di 15 kabupaten kota yang ada di Sulawesi Utara.

Sehubungan dengan hal tersebut, diperlukan adanya penguatan SDM Kesehatan baik yang ada di Dinas Kesehatan Kabupaten Kota dan Puskesmas, agar dapat memberikan memberikan pelayanan yang bermutu dan komprehensif pada orang dengan HIV AIDS (ODHA), dengan memegang prinsip tiga pilar tujuan program pencegahan dan pengendalian AIDS, yakni zero new casezero death, dan zero discrimination.

Oleh karenanya, Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara menyelenggarakan pertemuan :

  1. Peningkatan Kapasitas Pengendalian HIV dan IMS, yang dilaksanakan di SwissBell Hotel Manado pada tanggal 20-22 Juni 2016.
  2. Peningkatan SDM Konselor HIV, yang dilaksanakan di Ruang Pertemuan Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara pada tanggal 23-25 Juni 2016.

Pertemuan ini dihadiri oleh petugas pengelola program AIDS di Dinkes Kab/Kota, petugas Puskesmas, dan dari NGO.

Pertemuan Peningkatan Kapasitas Pengendalian HIV IMS , dibuka oleh Sekretaris Dinas Drs Djonni Matali Apt, didampingi oleh Kepala Bidang Bina PMK dr Hendrik Tairas dan Kepala Seksi Bimdal Wabah dan Bencana. Lokasi : SwissBell Hotel Manado
Pertemuan Peningkatan SDM Konselor HIV dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara dr Jemmy Lampus M.Kes didampingi oleh Kepala Seksi Bimdal Wabah dan Bencana. Lokasi : Dinkes Prov Sulut .

Narasumber pertemuan ini adalah dr Agung Nugroho SpPD, dr Early Ombuh, dan dari Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara; dengan materi terkait Kebijakan P2P AIDS, Situasi HIV AIDS di Sulut, Informasi Dasar HIV, Informasi Dasar Tuberkulosis, Kolaborasi TB-HIV, IMS, Tatalaksana HIV, serta Konseling dan Testing.

Selebihnya tentang HIV bisa dilihat di tautan ini.

 

 

Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD)

 

Hand Foot and Mouth Disease, atau yang lebih dikenal dengan singkatan HFMD, penyakit yang lagi naik daun saat ini. Seperti apa HFMD itu? Berikut ulasan awamnya.

 

1      PENYEBAB

Terutama disebabkan oleh infeksi Enterovirus, termasuk didalamnya adalah polioviruses, coxsackieviruses, echoviruses, and enteroviruses. Penyebab tersering adalah Coxsackievirus A16 (CA16) dan Enterovirus 71 (EV71).

 

2      PENULARAN

HFMD sangat menular.

Penularan terjadi dari satu orang ke orang yang lain melalui kontak dengan cairan/sekret hidung dan tenggorok (seperti liur, sputum, cairan hidung), baik kontak langsung ataupun lewat udara (melalui bersin atau batuk), dan juga dapat terjadi melalui kontak dengan cairan dari blister atau tinja penderita.

Penyakit ini tidak ditularkan dari hewan.

Negara dengan laporan peningkatan kasus HFMD adalah Tiongkok, Jepang, Hongkong, Korea, Malaysia, Singapura, Thailand, Taiwan, dan Vietnam.

 

3      GEJALA DAN TANDA

HFMD adalah penyakit infeksi virus yang umumnya menyerang anak berumur dibawah 10 tahun terutama bayi dan anak balita, walaupun kadang dapat terjadi pada orang dewasa.

Masa inkubasi adalah 3-7 hari.

Gejala yang muncul biasanya diawali dengan demam, kurang nafsu makan, sakit tenggorokan, dan malaise. Setelah itu akan muncul luka di mulut yang nyeri, awalnya bercak kemerahan yang kemudian berkembang menjadi ulkus.

Gejala lain yang timbul adalah munculnya bercak kemerahan (rash) dengan blister pada telapak tangan dan kaki penderita. Rash ini juga dapat muncul pada area lutut, siku, pantat, atau area genitalia penderita.

 

 

4      KOMPLIKASI

Penyakit ini biasanya sembuh sendiri dalam 7-10 hari walaupun tanpa pengobatan.

Komplikasi jarang terjadi. Kemungkinan komplikasi yang dapat muncul adalah dehidrasi, viral meningitis, ensefalitis, gangguan neurologis, dan lepasnya kuku tangan dan kaki yang reversible.

 

5      PENGOBATAN

Tidak ada pengobatan spesifik untuk penyakit ini. Pengobatan yang diberikan hanya simptomatis. Penderita disarankan untuk banyak minum air.

 

6      PENCEGAHAN

Tidak ada pencegahan khusus. Tidak ada vaksin untuk penyakit ini.

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) seperti cuci tangan pakai sabun (CTPS) dapat menurunkan risiko penularan. Hal lain yang dapat dilakukan adalah sering mencuci mainan anak.

 

 

Referensi :

  1. http://www.wpro.who.int/mediacentre/factsheets/fs_10072012_HFMD/en/
  2. http://www.cdc.gov/hand-foot-mouth/about/index.html
  3. http://www.depkes.go.id/development/site/jkn/index.php?cid=1823&id=penyakit-tangan-kaki-mulut-(ptkm).html
  4. http://pppl.depkes.go.id/berita?id=1372

 

 

Peningkatan Kapasitas SDM Pengendalian Zoonosis Sulut Juni 2016

Zoonosis merupakan penyakit yang bersumber dari hewan dan dapat ditularkan kepada manusia. Ada beberapa hal yang membuat zoonosis wajib diwaspadai yaitu angka kematian akibat penyakit zoonosis ini tinggi (50-100%), dapat menyerang otak dan tubuh lainnya, berdampak terhadap perekonomian, berpotensi menimbulkan wabah, dan dapat menjadi ancaman bioterorisme (contohnya antraks).

Prioritas program pencegahan dan pengendalian penyakit zoonosis yaitu untuk penyakit flu burung, rabies, antraks, leptospirosis, dan pes.

Sehubungan dengan hal tersebut, Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara melaksanakan Pertemuan Peningkatan. SDM Program Pengendalian Zoonosis Provinsi Sulawesi Utara, yang dilaksanakan sejak tanggal 20-22 Juni 2016 di Ruang Rapat Bidang PMK Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara.

Dalam sambutan Kepala Dinas Kesehatan yang dibawakan oleh Kepala Bidang Bina Pengendalian Masalah Kesehatan dr Hendrik Tairas; disampaikan bahwa Provinsi Sulawesi Utara termasuk salah satu daerah endemis rabies dan juga merupakan penyumbang terbanyak untuk angka kematian akibat rabies se-Indonesia. Berdasarkan data kasus yang terlaporkan di Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara, kasus gigitan tahun 2014 tercatat sebanyak 3698 kasus dengan 22 kasus kematian, sedangkan pada tahun 2015 ternyata kasus gigitan meningkat menjadi 4247 kasus dengan 28 kematian. Tahun 2016 sampai saat ini sudah terlapor sebanyak 1200 kasus gigitan dengan 9 kasus kematian pada manusia akibat rabies. Oleh karenanya, dalam pertemuan ini, peserta akan dilatih mengenai tatalaksana kasus gigitan hewan penular rabies pada manusia; dan juga akan narasumber akan membagikan wawasan terkait antraks, leptospirosis, pes, dan flu burung, serta bagaimana penanggulangan kejadian luar biasa akibat zoonosis. Kepala Dinas berpesan agar melalui pertemuan ini, dapat meningkatkan pemahaman peserta tentang bahaya penyakit zoonosis, meningkatkan kewaspadaan serta menjalin koordinasi lintas program maupun lintas sektor untuk bisa membangun kerjasama yang solid dan berkelanjutan dalam pencegahan dan pengendalian penyakit zoonosis.

Peserta pada pertemuan ini sejumlah 30 orang yang berasal dari Kabupaten Bolmut, Kabupaten Mitra, dan Kabupaten Sitaro, masing-masing kabupaten 10 orang, yakni Kepala Bidang, Kepala Seksi, dan Pengelola Program yang bertanggung jawab dalam pengendalian Zoonosis, Kepala Seksi Surveilans, dan Kepala Bidang/Seksi Promkes dari Dinas Kesehatan, serta 1 orang dari Dinas Peternakan.

Sebagai narasumber adalah Kepala Bidang Bina PMK Dinkes Prov Sulut (Kebijakan P2P Zoonosis), Kepala Seksi Wabah dan Bencana Dinkes Prov Sulut (P2P Rabies), dr Steaven Dandel MPH (Manajemen KLB Zoonosis dengan contoh kasus Flu Burung), dr Efata Polii SpPD (P2P Antraks dan Pes), dr Janno Bernadus MBioMed (P2P Leptospirosis), ibu Grace Sela Distanak Prov Sulut (Upaya Distanak dalam Pengendalian Rabies, Antraks, dan Flu Burung di Sulut), bpk Agustinus Langitan (Fungsi Komda Zoonosis), dan ibu Yenni Palit Bappeda (Perencanaan Zoonosis).

Peningkatan Kapasitas Petugas dan Dokter Puskesmas Sulut dalam Tatalaksana Kusta

Provinsi Sulawesi Utara masih termasuk daerah endemis tinggi untuk penyakit kusta, dengan prevalensi 1.7 /10.000 penduduk.

Pada tahun 2015 tercatat sebanyak 427 kasus baru (CDR 18 /100.000), dengan cacat tingkat 2 sebesar 11.9% dan kasus anak 7%. Angka penemuan penderita baru triwulan 1 tahun 2016 ini sebesar 4 /100.000 penduduk, dengan kecacatan tingkat 2 sebesar 1% dan 12% kasus anak.

Salah satu tantangan yang dihadapi adalah keterbatasan tenaga terlatih, baik petugas dan dokter. Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara, melalui seksi Wabah dan Bencana, telah mengagendakan capacity building tenaga kesehatan di Puskesmas, dimana diharapkan dapat menjawab tantangan ini.

Petugas dan dokter yang sudah dilatih tatalaksana kusta, diharapkan dapat menemukan kasus kusta sebanyak mungkin yang ada di wiayah kerjanya, dan diharapkan ditemukan sedini mungkin, sehingga para penderita kusta dapat mendapat pelayanan yang sesuai standar, bermutu, dan paripurna. Diharapkan, dengan penemuan kasus yang intens  tersebut, dalam 6-9 tahun ke depan, tidak lagi ditemukan kasus kusta dengan kecacatan dan kasus kusta pada anak, bahkan diharapkan tidak ada lagi kasus kusta baru di masyarakat.

Peningkatan kapasitas petugas dalam tatalaksana kusta batch ketiga tahun 2016 ini dilaksanakan pada tanggal 13-15 Juni 2016 di Hotel Sahid Kawanua Manado, dan peningkatan kapasitas dokter dalam tatalaksana kusta batch kedua tahun 2016 dilaksanakan pada tanggal 16-18 Juni 2016 di hotel yang sama.

Menjadi fasilitator pada pertemuan ini diantaranya adalah dr Teky Budiawan, MPH selaku konsultan kusta nasional dan dr Tiara Pakasi, MA selaku kepala seksi kusta Subdit PTML Ditjen P2P Kemenkes RI.

foto bersama dengan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulut dr Jemmy Lampus, M.Kes dan Kepala Bidang PMK dr Hendrik Tairas

foto bersama dengan kasie kusta Ditjen P2P Kemenkes dr Tiara Pakasi

foto bersama dengan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara dr Jemmy Lampus, M.Kes , Kepala Seksi Kusta Ditjen P2P Kemenkes dr Tiara Pakasi , dan Konsultan Kusta Nasional dr Teky Budiawan, MPH